Pilihan Kue Ulang Tahun Yang Tepat
- Chef Cynthia Louise
- 4 hari yang lalu
- 3 menit membaca
Kue ulang tahun yang tepat itu seperti apa, sih?
Pernah lihat daftar bahan dari kue-kue yang dijual di bakery?
Yang biasanya kita beli untuk momen ‘spesial’ itu?
Aku melihat ada GMO, karamel dengan pewarna, tepung terigu olahan, Red #40, pengawet dengan kuantitas yang banyak, perisa buatan, bahan kimia yang dikemas seolah-olah itu adalah makanan, dan segunung gula rafinasi, semua itu merangsang lidah kita sampai ke titik kecanduan. Tidak heran anak-anak jadi tidak suka sayuran. Indra pengecap mereka sudah ‘dibajak’ di setiap gigitan oleh bahan-bahan kimia palsu.
Aku sebenarnya bisa menulis tentang berbagai riset ilmiah soal ‘labirin kimia’ yang diizinkan ada dalam makanan kita. Tapi hari ini, aku mau fokus dulu ke gula.
Gula olahan ditambahkan ke dalam produk yang bukan bagian dari makanan utuh (jadi ini tidak termasuk gula alami yang memang ada di dalam buah pisang, misalnya). Nah, ini beberapa contoh umum gula rafinasi yang sering muncul di daftar bahan. Kata-kata ini pasti familiar kan?
Ingat, istilah-istilah ini berbeda di tiap negara karena sering diganti dengan nomor kode. Dan di situlah kita tersesat dalam ‘labirin kimia’ yang super rumit—sebuah lubang kelinci yang dalam banget kalau kita ikuti.
Gula
Gula Tebu
Sirup Jagung Fruktosa Tinggi
Sirup Jagung
Sirup Beras Cokelat
Gula Invert
Konsentrat Jus Buah
Kamu mungkin pernah dengar panduan yang menyarankan orang dewasa sebaiknya tidak mengonsumsi lebih dari 25 gram gula tambahan per hari demi kesehatan yang lebih baik.
Kamu mungkin pernah dengar panduan kesehatan yang menyebutkan kalau orang dewasa sebaiknya mengonsumsi kurang dari 25 gram gula tambahan per hari. Nah, untuk anak kecil aturannya bahkan lebih ketat lagi. Bayi dan balita di bawah usia dua tahun disarankan sama sekali tidak mengonsumsi gula tambahan. Satu-satunya ‘gula’ yang boleh ada dalam pola makan mereka hanyalah gula alami dari makanan utuh.
Tapi sayangnya, industri makanan olahan tidak peduli—mereka tetap menambahkan gula rafinasi hampir ke semua produk, baik dengan nama lain maupun sekadar nomor kode. Hampir semua camilan, kue, atau minuman kemasan untuk balita—bahkan yang berlabel organik—ternyata sudah mengandung gula tambahan!

Yang menarik adalah bagaimana kita memberi nilai tinggi pada makanan manis, seperti kue yang sering kita ‘izinkan’ untuk anak-anak (baik yang masih kecil maupun remaja) sepulang sekolah, atau saat momen ‘spesial’ seperti ulang tahun. Tapi… apakah itu benar-benar kue? Atau bahkan bisa disebut makanan? Sebenarnya itu lebih mirip percobaan sains yang berdampak pada kesehatan otak anak-anak kita.
Bagaimana jika kue di momen spesial dibuat tanpa gula?
Bagaimana jika kue momen spesial dibuat tanpa gula? Dan kalau lapisan frosting itu tidak penuh dengan gula rafinasi? Atau dibuat tanpa margarin? Tanpa perisa buatan? Bayangkan kalau ada kue yang tidak merampas kesehatanmu maupun kesehatan keluargamu?
Bagaimana jika…….
Jadi, bagaimana kalau kita mulai membalik keadaan secara alami, menghargai alam, dan merayakan rasa manis dengan cara yang lebih natural? Dan bagaimana kalau kita menciptakan sistem nilai baru yang menjadi ‘normal’ yang baru, setiap kali kita menginginkan sesuatu yang manis?
Sebagai seorang chef dan food creator, aku sungguh percaya bahwa menggunakan bahan palsu yang (bagi sebagian orang) rasanya LUAR BIASA itu bukanlah sesuatu yang pintar. Tidak ada yang pintar dari meracuni anak-anak kita dengan kue yang sangat diproses di hari ulang tahunnya, atau dengan camilan penuh pewarna dan olahan berat sepulang sekolah.”
Saat aku menulis catatan manis ini untukmu hari ini, aku teringat pada putraku, Jayman, yang dulu kecanduan gula—dan hingga kini masih bergumul dengan hal itu. Sebagai seorang ibu, aku sangat tahu rasanya. Aku tidak hadir di sini untuk menyalahkanmu; aku hanya ingin berbagi apa yang telah kupelajari selama 25 tahun terakhir bekerja bersama dokter, ahli biokimia, dan naturopat klinis.
Dari pengalaman pribadiku, aku punya sebuah pilihan. Pilihan itu adalah mendidik Jayman untuk belajar memeriksa daftar bahan dan memperhatikan nomor-nomor yang ada di kemasan makanan. Aku selalu mengingatkannya, ‘Nomor itu untuk dihitung, bukan untuk dimakan.’ Jadi ketika dia melihat angka di bungkus mi instan 2 menit atau pada camilan manis apa pun, dia tahu itu waktunya untuk melakukan penyelidikan sendiri dengan rasa ingin tahu, bukan sekadar aku yang terlihat seperti ‘ibu psycho’ dengan 'gaya polisi baik–polisi jahat'.
Aku membiarkannya menjelaskan sendiri apa itu RED 40 dan apa dampaknya pada tubuh manusia serta 78 organ yang kita miliki. Dari sana, tumbuhlah rasa penasaran. Dan sekarang, sebagai orang dewasa, Jayman tahu bahwa alam selalu benar, dan tidak ada tempat untuk ‘rekayasa sains’ di meja makan. Dan akhirnya, sebelum aku menikmati sepotong kue cokelat yang benar-benar enak dan melengkapinya dengan chocolate chip cookie di Jhoii, aku selalu ingat kata-kata ini: ‘Ketika kamu ingin sesuatu yang manis, itu lebih sering keputusan untuk kesenangan, bukan keputusan kesehatan. Bukankah akan luar biasa kalau di ujung sendok kue kita ada seiris apa yang benar-benar dibutuhkan alam dari kita?
Dari dapur kami untukmu, kami membuat yang manis-manis tanpa mengorbankan kesehatanmu. Dengan penuh cinta.
Klik disini untuk memesan Celebration Cakes tanpa gula rafinasi yang bikin lemas setelahnya. Yep, kamu nggak salah dengar—nggak ada sugar crash, hanya kenikmatan murni, lezat, dan penuh kebahagiaan ulang tahun dengan Really Good Chocolate Cake.
Komentar